Saturday, October 09, 2004

Seorang Benyamin dan Budaya Betawi yang Lestari

Lapangan itu mendadak dipenuhi warga. Ada Benyamin S., katanya.
"Wooi, ke lapangan, yuk, liat Binyamin!" ajak seorang ibu rumah tangga kepada sejumlah temannya. Yang diajak rupanya ragu-ragu dengan kebenaran informasi tersebut. Mereka malah berkumpul di pojokan kampung sambil menggunjingkan benar tidaknya Benyamin Suaeb hadir di lapangan. Boleh jadi, mereka tidak yakin seniman Betawi itu hadir di lapangan. Soalnya, Bang Ben sudah meninggal dunia tujuh tahun silam.

Boleh dibilang, rasa penasaran mengalahkan segalanya. Perlahan, sekelompok ibu-ibu itu berangkat juga ke tempat digelarnya panggung kreativitas remaja Kereo Selatan, Ciledug, Tangerang. Acara memperingati HUT ke-57 RI itu memang baru dimulai. Menjelang lapangan, sayup-sayup terdengar lagu Ondel-Ondel. Tanpa dikomando, rombongan ibu-ibu ini langsung mempercepat langkah mereka. Seolah mengenang masa remaja, mereka mulai berkejaran sambil menuju tempat "Bang Ben" bernyanyi. Sebagian di antaranya malah ikut berdendang.

Lapangan dipenuhi orang. Sang biduan--meniru istilah Bang Ben--sudah tidak kelihatan pantatnya lantaran di kelilingi warga. Rombongan ibu-ibu tersebut mungkin kecewa begitu mendapati sang pendendang hanya seorang muda berbadan kurus dengan rambut lurus. Satu hal pasti yang mampu mengobati kekecewaan mereka hanya Bang Ben gadungan itu bersuara mirip sang idola plus banyak tingke dan berkulit hitam. Apalagi, gayanya juga muke gile.

Sebentar-sebentar jejingkrakan. Kakinya mengentak lantai panggung, seperti orang marah, tapi malah terlihat kocak. Tampaknya, dia betul-betul meniru Si Idung Gede yang selalu berjingkrakan bila di atas panggung. Tinggallah si penonton yang mesam-mesem menyaksikan polah tingkah Bang Ben gadungan. Mereka juga turut bernyanyi. Eh, hujan gerimis aje, ikan lele ade kumisnye... .

Hiburan pembukaan selesai. Panitia memang sengaja menempatkan Bang Ben jadi-jadian buat gebrakan agar warga setempat langsung memadati lokasi. Keputusan panitia nampaknya tidak sia-sia. Terbukti dalam sekejap lapangan dipenuhi warga, termasuk sekelompok ibu-ibu tadi.

Bagi warga Desa Kereo yang mayoritas Betawi pinggiran atau ora—lantaran menyebut kata "tidak" dengan "ora", persis bahasa Jawa kasar—Benyamin Suaeb seperti tokoh penghibur sepanjang masa yang nggak ada matinye lantaran tingkah polanya yang selalu mengocok perut. Jenaka. Ungkapan yang keluar dari mulutnya tidak basi hingga pada gilirannya film-filmnya selalu bisa ditonton sepanjang waktu, lagu-lagunya selalu bisa didengar kapan pun.

Realitas ini tak cuma ditemui di Ciledug. Hampir seluruh pelosok Indonesia, khususnya Jakarta, pun sama. Tak heran, banyak orang meniru tingkahnya yang seabreg-abreg. Bagi selebritis atau artis sinetron, meniru Benyamin sama dengan membiarkan duit mengucur ke kantong dengan sendirinya. Tengok yang dilakukan Mandra atau Jaja Mihardja.

Boleh jadi, Mandra bermaksud meniru Benyamin hanya dari segi kepiawaiannya sebagai seniman serba bisa. Sukses dari lenong, Mandra mencoba eksis di dunia film dan sinetron. Belakangan, dia juga merambah dunia tarik suara. Sayangnya, Mandra seperti tidak serius menggali potensi yang ada dalam dirinya. Soalnya, begitu melihat Mandra bernyanyi, yang timbul di kepala: yaaah, itu sih Benyamin. Mandra tidak berusaha menampakkan otentisitas dirinya sebagai orang Betawi Ora yang tidak akan berbicara dengan logat e—seperti Benyamin. Dia malah asyik memanfaatkan ketenaran yang sudah didapatnya dengan menjadi epigon Bang Ben.

Sementara Jaja Mihardja mungkin kepingin mengetopkan istilah "Aaapaaan Tuh" di kalangan masyarakat. Lagi-lagi, lantaran tidak berusaha menggali, atau mungkin karena "yang penting ngetop", ungkapan tersebut menghilang begitu saja. Jauh dari istilah "muke gile"-nya Bang Ben yang hingga kini masih meruang dan mewaktu; masih kerap dilontarkan orang buat sekadar memaki atau meledek; yang pada akhirnya justru menimbulkan gelak tawa di antara yang bersangkutan.

Kembali kepada upaya menghidupkan kembali Bang Ben sebagai "cara mudah mendapatkan uang", langkah ini juga dilakukan sejumlah pemusik—termasuk band kampung yang disebutkan paling atas dalam tulisan ini. Grup Harapan Jaya, misalnya. Mereka mendendangkan nomor tenar Ben yang berjudul Kompor Meleduk.

Pilot Gagal yang Jadi Artis
Benyamin Suaeb lahir di Kemayoran, Jakarta Pusat, 5 Maret 1939, dari pasangan Suaeb dan Siti Aisyah lewat perantara dukun Saodah. Orang mungkin tidak pernah begitu memperhatikannya sampai peristiwa itu muncul di tahun 1973. Ya, pelawak dari kampung ini menyabet Piala Citra sebagai Aktor Terbaik dalam film Intan Berduri. Penghargaan sama juga diraih Ben untuk film Si Doel Anak Modern. Publik langsung melongo dengan prestasi penyanyi gambang kromong yang sempat jadi kondektur bus PPD itu.

Sebagai aktor, sepanjang hidupnya Ben membintangi sekitar 53 judul film, termasuk Buaye Gile, Biang Kerok, Traktor Ben, dan Si Doel Anak Betawi. Menurut catatan Majalah TEMPO, film-film Bang Ben selalu dipenuhi penonton. Tak cuma di kota-kota besar, film Bang Ben juga menyita perhatian warga pelosok kampung. Di Tanjung Balai, Riau, misalnya, tayangan layar perak yang diperankan Ben selalu mengeruk penonton kelas bawah, tengah, dan atas—meski yang terakhir memasuki gedung buat mengantar anak-anaknya.

Sementara dalam dunia tarik suara, Ben menyandang penyanyi "menulis langsung jadi". Disebut begitu lantaran dalam keadaan bagaimana pun, dia sanggup menulis lagu untuk kemudian langsung mendendangkannya. Pernah suatu ketika, Bang Ben dalam perjalanan ke sebuah tempat buat memenuhi panggilan menyanyi. Dalam kendaraan, dia menulis sebuah lagu yang kemudian, ... “jadi”.

Kiprah Ben sebagai penyanyi ngetop bisa dibilang suatu kebetulan. Waktu itu, sekitar 1968, setelah memutuskan berhenti bekerja dari PT Asbes Semen, Ben memutuskan buat total di musik. "Saya nggak pikir apakah saya bisa hidup atau nggak, pokoknya jalan terus," ujar Ben. Baginya, yang penting usaha dulu. Apalagi, musik bukan barang baru bagi Ben. Sejak SMA, dia sudah cukup makan asam garam di dunia tarik suara dengan membentuk grup bernama Melodyan Boy—belakangan diganti menjadi Melodyan Ria karena kebijakan Presiden Sukarno yang melarang segala sesuatu berbau Barat.

Maka, dengan semangat tinggi seperti orang habis mengambil gaji, Ben berangkat ke Studio DIMITA mengendarai DKW Humell. Di sana, dia menyerahkan kaset berisi rekaman lagu yang berjudul Nonton Bioskop kepada Bing Slamet. Saat itu, almarhum Bing cuma bilang, "Gua tahu lu bisa nyanyi, coba aja nyanyi." Tanpa pikir panjang, Ben langsung menuju mikrofon. Maka jadilah lagu Teisennya, Kembang Jatoh, dan Asal Mogok Genjot. Yang terakhir ini mendadak meluncur dari mulutnya lantaran DKW-nya mogok terus sepanjang jalan menuju studio.

Semasa hidup, Ben tak pernah menulis lirik lagu yang macam-macam (Baca: lirik dengan bahasa tinggi yang sulit dimengerti orang). Dia selalu menggambarkan aktivitas masyarakat sehari-hari dalam lagunya. Spontan. Uniknya—yang pada akhirnya membuat dia tambah disayang kaum akar—lirik-lirik tersebut selalu menceritakan rakyat kecil. Kalau sudah begitu, lahirlah Cari Kutu yang menceritakan permintaan seorang istri agar sang suami mau membiakkan kepala istrinya yang dipenuhi kutu; atau Bini Tua tentang suami yang gemar kawin lagi. Bisa juga kisah orang tua yang berkelahi hanya gara-gara si anak berhantam.

Tapi siapa menyangka kalau di balik ekpresi jujur yang tidak mendikte itu Ben justru menyimpan sebuah disiplin untuk melempangkan yang bengkok, atau paling tidak sekadar mengingatkan. Dalam lagu Tukang Kridit, Ben mengingatkan masyarakat yang gemar berutang supaya menahan diri dan "jangan nurutin setan".

Jauh sebelum Rhoma Irama berduet dengan Elvy Sukaesih, Ben sudah menemukan pasangan duetnya. Bahkan, sudah beberapa kali bongkar pasang, seperti dengan Inneke Kusumawati dan Lilis Suryani. Nah, baru dengan Ida Royani rasanya Ben merasa sreg. Dan dengan istri pemusik Keenan Nasution itu pula Ben seperti menemukan taysen-nya (ungkapan ini tenar di era `70-an, terutama di kalangan penjudi pakong yang berarti pasangan). Ida mulai berduet dengan Ben saat dia masih duduk di bangku SMA.

Kalau ditanya waktu kecil kepingin jadi apa, Ben akan langsung menjawab, "pilot!" Jawaban ini bukan tanpa sebab. Tinggal di kawasan Kemayoran, Ben kecil kerap kali menyaksikan pesawat terbang hilir mudik di bandara yang terletak dekat rumah. Boleh jadi, di mata Ben kecil pesawat terbang adalah sebuah modernitas tenpat menggantungkan hidup di masa depan.

Alih-alih lulus SMA masuk perguruan tinggi atau sekolah pilot, Ben malah kawin dengan Noni. Meski begitu, belakangan dia sempat mengenyam bangku kuliah di Universitas Sawerigading Jurusan Manajemen, meski hanya hampir tingkat II. Ben mungkin mengambil jurusan ini lantaran sang ibu tak mengizinkannya menjadi pilot.

Haul Tujuh Tahun Bang Ben
Tujuh tahun silam, tepatnya 5 September 1995, duka warga Betawi bertambah. Seniman kebanggaan mereka yang teramat kocak, pergi menghadap Sang Pencipta. Bang Ben terkena serangan jantung setelah bermain sepak bola.

Ratusan warga berduyun-duyun melayat jenazah almarhum di kawasan Cinere, Jakarta Selatan. Mereka nampaknya tak rela ditinggal begitu saja oleh Si Muke Gile.

Rencananya, pada haul tujuh tahun Bang Ben, keluarga besar almarhum berencana menggelar acara besar-besaran, 13 Oktober mendatang di Jakarta Convention Center. Selain mengenang Bang Ben, acara juga dimaksudkan buat membantu seniman Betawi lainnya agar tetap eksis dalam mengembangkan kebudayaan asli Jakarta. Pada waktu bersamaan, Universitas Monash, Australia, malah menggelar acara yang tak jauh berbeda. Mereka memutar film-film dan lagu-lagu Bang Ben.

Kenyataan itu paling tidak menggambarkan betapa Si Idung Gede memiliki banyak pengaruh di masyarakat, termasuk di luar negeri. Sekiranya menanyakan pendapat seseorang tentang Bang Ben, mesti dijawab bahwa beliau figur yang kocak dan segar.

Hingga akhir hayatnya, Ben mengeluarkan lebih dari 75 album musik. dan membintangi 53 judul film. Keseriusan Ben menekuni bidangnya memang tak sia-sia, hingga seorang Mus Mualim pernah berkata, "Hanya satu yang tidak diketahui orang tentang Benyamin. Dia menghidupkan lagu Betawi yang nyaris mati. Itu jasanya. Sebaiknya memang kepadanya diberikan penghargaan." Ya, Bang Ben memang layak diberi penghargaan!

(Sid Ocid--maaf sebenarnya tulisan ini dibuat, sekitar tiga silam, tapi karena satu dan laen hal, hehehe, baru dimuat sekarang)

Wednesday, September 29, 2004

Orang Urakan

Aku tidak tahu kapan kembali
sudah seribu kilo aku berjalan ke utara
lalu seribu kilo membelok ke barat
bayanganmu bergerak dari cakrawala ke cakrawala

Kini aku berjalan lagi
menyandang ranselku menyeberangi sungai
dan membonceng kereta

Angin berkata sesuatu
sementara aku tidur di dalam peron
aku tak mengerti maknanya
aku usap mataku lalu aku melihat matahari
di atas gerbong kereta

Wahai, kamu yang bergerak di cakrawala
siapakah kamu...
siapakah kamu...
(eMWe)

Wednesday, September 22, 2004

Sayang, Aku Mau Mengadu Sebentar




Sayang,
Aku lihat betapa mereka merangkak
mereka merangkak

sebab, luka tempo dulu
belum habis digarap
belum habis digarap

Kini garam kembali bikin perih

Sayang,
aku lihat air sungai kami hitam
ya, sebab air sungai di sini diisi air mata

Darimana asalku? ...
Siapakah aku? ...

Monday, September 20, 2004

Ramones Sepanjang Masa




"Well I don`t care about history
`Cause there`s no place I wanna be
I just wanna have some chicks
I just wanna get some kicks
Rock, rock, rock n` roll high school"


Jins belel, jaket kulit warna hitam, dan rambut poni. Musik minimalis: cukup tiga chord; tanpa solo gitar. Sekali gebrak, "one, two, three, four": lagu mengisi panggung. Dalam waktu tak lebih dari 30 menit, Ramones menyuguhkan tak kurang dari 20 lagu. Siapa menyangka kisah empat anak muda pengusung rock n` roll yang enerjik—belakangan disebut pelopor Punk Rock--ini mampu mempengaruhi perjalanan banyak grup musik sepanjang masa. Termasuk, grup-grup besar di zaman sekarang, seperti Metallica, Red Hot Chilli Peppers, Greenday, dan Offsfrings. Bahkan, empat kelompok musik yang disebut terakhir ini ikut ambil bagian dalam proyek Tribute to Ramones, sebuah album yang dipersembahkan buat mengenang The Ramones dan bertajuk "We`re a Happy Family"--diambil dari sebuah judul lagu Ramones. "We`re a Happy Family" dirilis Februari 2003.

Jeffrey Hymann alias Joey Ramone (vokalis Ramones, 19 Mei 1951-15 April 2001) mungkin tak akan pernah menyangka tatkala menyaksikan musik yang diusungnya dulu, kelak menjadi sebuah genre tersendiri yang identik dengan sebuah subkultur: punk rock. Padahal, saat itu, keempat pemuda di Ramones (Joey, Johnny, Dee Dee, dan Marky), cuma kepingin main musik yang mereka klaim sebagai "lain dari yang lain". Seperti dikatakan Joey Ramone pada 1974, "Kami tak mendapat apa-apa dalam musik saat ini. Kami bosan menjadi Led Zeppelin atau The Stones (Rolling Stones)". Dan, Ramones pun memainkan musik yang mereka inginkan; yang serba minimalis hingga seorang pengamat musik di AS menilai, musik Ramones sangat tak beradab dengan vokal yang konyol, lirik pendek yang diulang-ulang, serta suara gitar yang meraung-raung persis suara gergaji mesin.

Namun begitu, buat menjadi sebuah pionir dalam genre punk rock, Ramones tak serta merta menjadi "Ramones".

Joey Ramone bocah New York asli yang lahir dan tumbuh menjadi pria jangkung di kawasan Forest Hills, New York, Amerika Serikat. Dalam sebuah wawancara dalam film dokumenter "Lifestyle Ramones", ibu Joey menyebut Jeffrey kecil—nama asli Joey—sebagai bocah penurut dan sangat lucu. Tommy Erdelyi (Tommy Ramone) dikenal sebagai penggemar berat The Beatles yang lahir di Budapest, 29 Januari 1952 dan besar di Queens, New York. John Cummings (Johnny Ramone) lahir 8 Oktober 1951 sedangkan Douglas Colvin (Dee Dee Ramone) lahir 18 September 1952 di Fort Lee, Virginia, dan sempat tinggal di Berlin, Jerman.

Keempat anak muda ini bertemu pertama kali saat masuk Forest Hills High School pada September 1966. Musik menyatukan mereka dan akhirnya sepakat membentuk sebuah band bernama The Ramones. Nama ini dipinjam dari Paul Ramon, nama samaran Paul McCartney, pemetik bass The Beatles, saat dia solo.

Saat itu, Jeffrey ingin namanya diganti menjadi sesuatu yang lain dan terkesan keren (cool) atau bahasa anak sekarang "gue banget". Mereka pun sepakat memakai nama panggilan. Jeffrey menjadi Joey, Douglas menjadi Dee Dee, dan John menjadi Johnny. Cuma Tommy yang tetap Tommy. Semua memakai nama Ramone di belakang nama panggilan masing-masing.

Pada formasi awal, Joey di posisi drum, Johnny main gitar, Dee Dee sebagai vokalis, dan seorang bernama Ritchie Ramone yang diminta untuk bermain bass. Namun Ritchie tak bertahan lama lantaran harus masuk rumah sakit jiwa. Dee Dee menggantikan posisi Ritchie dengan bermain bass. Saat itu, Tommy menjadi manajer Ramones. Lagu pertama yang ditulis Joey cs adalah "I Don’t Wanna be Loved" yang segera mengawali trend lagu-lagu Ramones yang banyak berawal dengan kata "I Wanna.." atau "I Don`t Wanna.." Semisal "I Wanna Be Sedated" atau "I Don`t Want To Live This Life" dan "I Don`t Wanna Grow Up".

Ramones unjuk gigi pertama kali di Performance Studio di East 23rd Street , NY, 30 Maret 1974 yang disaksikan 30 orang. Pada Juli 1974, Tommy mengambil posisi drum sehingga Joey bisa konsentrasi pada vocal. Ramones mulai menyita perhatian publik saat mereka tampil di Max’s Kansa City dan CBGB (Country Bluegrass and Blues)—sebuah klub yang setelah Ramones pentas di sana dinobatkan sebagai klub musik underground pertama di AS. Ramones main di CBGB pada 16-17 Agustus 1974 sebagai grup pembuka Blondie. Sejak itu pula punk rock merajalela di New York. Penampilan Ramones dinanti-nanti para punkers (sebutan untuk anak punk).

Konser besar pertama Ramones berlangsung Juni 1975 saat mereka sepanggung bersama Johnny Winter di Palace Theatre di Waterbury. Dan atas usaha Bizarre yang pernah mengorbitkan Iggy Pop dan Television, album pertama Ramones keluar pada April 1976 lewat label Seymour Stein’s Sire. Album pertama Ramones yang juga bertitel Ramones diselesaikan dengan waktu kurang dari dua pekan dengan biaya cuma $ 6.400. Sebuah era baru dimulai. "Heyho Let`s Go", lirik dalam "Blizkrieg Bop&", salah satu lagu di album pertama Ramones menjadi yel-yel para punkers hingga kini Begitu juga "Gabba Gabba Hey". Marky Ramone masuk menggantikan Tommy sebagai penggebuk drum.

Lirik lagu-lagu Ramones banyak menceritakan situasi sosial saat itu, seperti 53rd and 3rd atau tentang kenakalan remaja, semisal "Rock N` Roll High School" atau "Sheena Is A Punk Rocker".

Dalam History of Punk Rock ditulis bahwa banyak band-band sebelum Ramones, seperti Iggy and The Stooges, MC5, Richard Hell dan The Voidoids menampilkan beberapa aspek dari punk, tetapi tak ada band yang mengkombinasikan semua unsur dalam punk hingga Ramones menyatukannya tahun 1975. Ramones memang mengisi setiap lagu dengan sedikit nada yang ditimpali frase pendek yang diulang-ulang, gitar yang berisik dengan melodi yang nyaris tidak ada dan berkutat pada three magic chord. Durasi setiap lagu rata-rata cuma dua menit.

Banyak yang suka, tapi tak sedikit pula yang geleng-geleng kepala. Bahkan, saat itu tak ada satu pun major labels yang mau menerbitkan lagu-lagu Ramones. Danny Field dari A&M Record mengaku merasa jijik dan segera pergi meski baru mendengarkan setengah dari lagu Ramones. Dia mengaku sama sekali tidak tertarik dengan musik punk dan menyebutnya sebagai sebuah onggokan besar omong kosong yang tak seorang pun ingin mendekat.

Ramones tak kecil hati. Lagu-lagu mereka tetap dinanti. Konser-konser mereka juga selalu padat, meski hanya digelar dalam sebuah klub malam. Bahkan, dalam sebuah penampilan di Jerman pada 1976, para anak muda setempat nekat berdiri di setiap celah yang kosong di antara empat bangku plus satu meja yang memang disediakan panitia untuk para penonton Ramones.

Pada 4 Juli 1976, Ramones menggebrak public London, Inggris, yang juga ditonton personel Sex Pistols, The Clash, The Damned, Generatiion X, serta Siouxsie and the Banshees. Merekalah cikal bakal punk di Inggris yang meledak setahun kemudian. Bahkan, musik Sex Pistols disebut banyak pengamat musik sebagai lebih tidak beradab dan lebih kasar daripada Ramones. Konser di London’s Roundhouse itu pula yang menjadi salah satu aksi Ramones dengan jumlah penonton sepulub kali lipat dari yang seharusnya ada di tempat itu.

Single kedua Ramones yang berjudul "I Wanna Be Your Boyfriend" diterbitkan pada Oktober 1976 disusul album kedua yang bertajuk "Ramones Leave Home". Album selanjutnya keluar nyaris dengan beda waktu sekitar setahun, yaitu "Rocket to Russia", "Road to Ruin", "It`s Alive", "End of The Century", "Pleasent Dream", "Subterranean Jungle", "Too Tough to Die", "Animal Boy", "Halfway to Sanity", serta "Ramones Mania". Hits demi hits diciptakan Ramones mengiringi album demi album yang terbit, seperti "Sheena Is A Punk Rocker", "Cretin` Hop", "Pinhead", "Now I Wanna Sniff Some Glue", "Do You Remember Rock `n Roll Radio?", "53rd and 3rd", "Rockaway Beach", dan "Psychoterapy".

Ramones terus menancapkan pengaruh di jagat musik rock. James Hetfield dan Lars Ulrich, masing-masing guitar-vokal dan penggebuk drum Metallica mengakuinya. Metallica tak akan pernah ada seandainya Hetfield dan Ulrich tak menonton aksi Ramones pada pertengahan 1980-an. Saat itu, Hetfield terkesima dengan ulah Joey Cs yang tak henti-henti bernyanyi dengan jeda antara lagu demi lagu yang nyaris tidak ada—hanya diselingi komando Dee Dee yang berteriak "One, two, three, four". Hetfield pun mengutarakan niatnya ingin membentuk sebuah grup rock yang enerjik seperti Ramones. Alih-alih kayak Ramones, justru Metallica tetap dengan gaya sendiri yang mereka sebut heavy metal.

Penggemar Ramones memang bukan cuma musisi. Penulis novel misteri Stephen Kings juga menjadi salah satu fans Joey Cs. Bahkan, Kings dikabarkan menyumbangkan tulisan khusus untuk Ramones di album "Tribute to Ramones". Salah satu karya Kings yang difilmkan juga pernah diisi soundtrack lagu Ramones yang berjudul "Pet Semetary".

Album selanjutnya yang dikeluarkan Ramones, berturut-turut adalah "Brain Drain", "All The Stuff and More" (1 dan 2), "Loco Live", "Mondo Bizarro", "Acid Eaters", dan "Adios Amigos". Dee Dee sudah tak bersama Ramones saat "Mondo Bizarro" dikerjakan. Dia digantikan C.J. Ramone. Dee Dee keluar karena ingin menjadi penyanyi rap dengan nama Dee Dee King. Dee Dee lalu membentuk sebuah grup bernama Chinese Dragon dan sempat menelurkan album sendiri. Adios Amigos menjadi album terakhir Ramones yang diklaim Joey Cs sekaligus sebagai album perpisahan. Setelah itu, Ramones membubarkan diri pada 1996. Joey solo dan sempat mengeluarkan album berjudul "Don’t Worry About Me".

Majalah musik, Spin, belum lama ini merilis daftar 50 grup musik terbesar. Dan Ramones menduduki posisi kedua, setelah The Beatles di posisi pertama dan sebelum Led Zeppelin yang berada di tempat ketiga. Pilihan Spin memang masih bisa diperdebatkan. Namun, menurut para redakturmya, urutan 50 grup musik terbesar itu dibuat didasarkan bahwa “Kelompok-kelompok tersebut harus memiliki lagu yang berada di puncak tangga lagu-lagu, aura yang mengubah sejarah, gaya rambut, serta mempengaruhi musik saat ini”. Ramones tak bisa disangsikan, menurut redaktur Spin, memang mampu memenuhi kualifikasi tersebut. Lagu-lagu Ramones kerap masuk tangga lagu di AS dan Inggris. Bahkan, Ramones dinobatkan sebagai grup punk pertama yang menorehkan sejumlah lagu hitsnya di tangga lagu top dunia. Di antara lagu yang tenar adalah "Sheena Is A Punk Rocker".

Pada 15 April 2001 jam 14.20 waktu AS, Joey Ramone meninggal dunia di Rumah Sakit Presbyterian New York setelah berjuang keras melawan kanker limpa. Publik rock, khususnya punk berduka. Malamnya, di tengah konser U2 di Rose Garden, Portland, Oregon, vokalis U2, Bono, berbicara sejenak kepada para penonton. Dia mengatakan betapa Joey dan The Ramones telah mengubah U2 dan hidupnya sendiri melalui pesan-pesan dalam lagu Ramones yang kerap membuat jantungnya berdegup.

"Saya katakan, `Saya ingin berbicara dengan kalian tentang Joey Ramone..., dan seluruh penonton berdiri bergemuruh," kata Bono sambil mengingat betapa terpananya dia waktu itu. Kepada penonton di Oregon, dia juga menceritakan bagaimana Ramones membuat Bono Cs membentuk sebuah band. Setelah itu, Bono menyanyikan karya emas Joey, "I Remember You" dari album Ramones, "Leave Home" (1977). "Yang mengejutkan adalah penonton menyanyikan lagu itu dengan seksama. Kemudian saya katakan bahwa Joey meninggal hari itu," kata Bono, seperti dikutip dari Majalah Rollingstone yang menanyakannya perihal Ramones. Di CBGB, penggemar Ramones berkumpul dan menyalakan lilin untuk Joey serta menaruh karangan bunga di depan klub para punkers itu.

Dee Dee Ramone juga meninggal dunia di rumahnya di Los Angeles, California, AS, 5 Juni 2002, saat dia berusia 49. Hasil otopsi Los Angeles County Coroner`s Office menyebutkan, Dee Dee tewas karena overdosis obat-obatan terlarang.

Ramones memang meninggalkan cukup kesan di hati banyak orang dengan musik dua menitnya. Wajar kiranya Metallica, U2, Eddie Vedder, bahkan Stephen Kings merelakan waktunya untuk menggarap sebuah album yang dipersembahkan buat Ramones. Majalah Rollingstone dalam edisi April 2004 juga memasukkan Ramones sebagai satu dari 50 grup abadi sepanjang masa. Sebelumnya, pada Maret 2002, Ramones diabadikan dalam Rock n Roll Hall of Fame. Seperti dikatakan Deryck Whibley, personel SUM-41 kepada Majalah Spin, "Kepandaian Ramones adalah mereka mampu mengatakan sesuatu hanya dalam waktu dua menit." **SID OCID**

Air Sungai Mengalir...

Air sungai mengalir
air jernih
di atas awan bercanda dengan mentari

Rumput merunduk sebentar
sebentar berdiri
angin masuk lewat muka
lewat kulit kepala

Hangat ada di dada
air kolam di kepala
surga tropis surga gerakan
surgawi gerakan dirimu

AArrghkkkh

Gejolak hidup
bukan di sini tempatnya
bawa sana pergi jauh
buang ke matahari
bilang sama tuhan
nanti aja deh

nantikan aku ke dunia...

air sungai mengalir
air jer...

Sunday, September 12, 2004

I Wanna Be Well


i wanna be well
lsd, golly gee
ddt, wowee
daddy's broke
holy smoke
my future bleak
ain't it neat
Yeah, I wanna be Well (thanks to dee dee ramone)

merdeka

Rakyat Indonesia belum merdeka. Kapan dong merdekanye? Kakeknye si Dul bilang dalam film Si Doel Anak Betawi, Indonesia merdeka kalo orang Jawa tinggal separo, Cine-Belande sejodoh. Nah, orang Betawi ke mane, dong?

Saturday, August 21, 2004

seks




"Gue gak ngerti apaan yang orang cari dari seks. Gue gak dapet apa-apa dari situ," kata Sid Vicious kepada ibunya, Anne Beverley, tentang pengalamannya bercinta pertama kali. Waktu itu Sid baru berusia 16 tahun.

Wednesday, August 18, 2004

cuma embusan



hidup

belajar

tahu

berkembang

memberi

hidup



Test

testing... mukelo jauuuuuu, deket gue garuukkkkkk!!!!!!

[ Ocid adalah ]
Sebuah Ramuan Ajaib...............

[ Previuos Post ]

[ Archive ]

[ Blog Temen-temen ]
Fadjar
Diajeng
Yayat
Wawan
Ophank
Tiooooo
zaki
tina ene`-ene`-ene`
rizikCAwAnG
OZi
AisZabirAl-Ustadz

[ L I N K S ]
national geographic
pubmed
e-medicine
aljazeera
liputan6
kompas
tempo
detik
malesbanget

[ K O M E N T A R ]


copyright 2004 [ o c i d ]